Selasa, 28 April 2015

H.B. JASSIN DAN AL-QUR`AN BERWAJAH PUISI

Riwayat Hidup H.B. Jassin
            Hans Bague (H.B.) Jassin dilahirkan di Gorontalo, 31 Juli 1917. Ayahnya bernama Bague Mantu Jassin, dan ibunya bernama Habiba Jau. Setelah menamatkan Gouverments HIS Gorontalo pada tahun 1932, Jassin melanjutkan di HBS-B 5 tahun di Medan dan tamat akhir 1938. Bulan Januari 1939, Jassin kembali ke Gorontalo dan pada tahun 1940 ia menuju Jakarta.
            Kariernya di Jakarta dimulai dengan bekerja di Balai Pustaka pada tahun 1947. Lalu menjadi sidang pengarang redaksi buku (1940-1942), kemudian menjadi redaktur Panji Pustaka (1942-45), dan wakil pemimpin redaksi Panca Raya (1945-21 Juli 1947). Setelah Panca Raya tidak terbit lagi, secara berturut-turut Jassin menjadi redaktur majalah berikut: Mimbar Indonesia (1947-66), Zenith (1951-54), Bahasa dan Budaya (1952-63), Kisah (1953-56), Seni (1955), Sastra (1961-64 dan 1967-69), Horison (1966-sekarang), dan Bahasa dan Sastra (1975).
            Mulai Agustus 1953, ia menjadi dosen luar biasa untuk mata kuliah Kesustraan Indonesia Modern pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Di samping mengajar, ia juga mengikuti kuliah di fakultas yang sama. Tanggal 15 Agustus 1957 ia meraih gelar kesarjanaan dan mendapat gelar Doktor Honoris Clausa pada tahun 1975 di Universitas yang sama. Selain itu, ia juga pernah memperdalam pengetahuannya mengenai ilmu perbandingan sastra di Universitas Yale, Amerika Serikat. Dari latar belakang pendidikan ini, tak mengherankan jika ia  merupakan kritikus sastra Indonesia yang mendapat julukan Paus Sastra Indonesia, dan bahkan menyebutnya empu sastra.
Al-Qur`an Berwajah Puisi: Latar Belakang Hingga Kontroversi
            Penulisan al-Quran berwajah puisi ini pada dasarnya tidak terlepas dari kapasitas beliau sebagai kritikus sastra. Berulang kali ia melihat cetakan-cetakan al-Qur`an terbitan Indonesia, Turki, Mesir, maupun Arab, semua susunannya sama, berbentuk prosa. Ia tidak menemukan al-Quran yang disajikan dalam bentuk puisi.
            Hal inilah yang terus menjumudi pikirannya. Al-Qur`an itu indah. Berabad-abad ia dijaga, dibaca, ditulis, bahkan diperlombakan dengan aneka gaya dan alunan suara untuk menunjukkan betapa indahnya Al-Qur`an. Namun mengapa ia tidak ditulis secara indah perwajahannya?. Sebab al-Qur`an meski susunannya berbentuk prosa, namun kata-katanya bermuatan puisi. Sehingga ia akan lebih indah kalau disusun berbentuk puisi, dan tentu lebih enak dibaca.
            Atas dasar tersebut, ditulislah Al-Quran Berwajah Puisi -- bukan Al-Quran puisi—Untuk menulisnya, H.B. Jassin memasrahkannya pada seorang khattat muda, D. Sirojuddin, yang juga menjabat sebagai ketua lembaga kaligrafi al-Qur`an dan dosen Fakultas Adab IAIN Jakarta.
            Di dalam buku Kontroversi Al-Qur`an Berwajah Puisi, D. Sirojuddin banyak menjelaskan mengenai buku tersebut. Ia menjelaskan mengenai tata cara penulisan dalam kitab tersebut tetap mengacu pada tata cara penulisan mushaf utsmani. Hanya saja dalam lay-out nya berbeda.  Pengaturan lay out yang berbeda ini yang kemudian menjadi ciri khas Al-Qur`an berwajah puisi.
            Sayangnya, sebelum kitab ini diterbitkan masyarakat mengetahui terlebih dahulu proyek ini. Sebagaian mereka berasumsi bahwa telah ada upaya “mempuisikan” Al-Qur`an. Bahkan MUI dan Depag tidak memberikan lampu hijau untuk menerbitkan kitab ini. Mereka menilai bahwa madharat dari buku ini lebih banyak dari pada manfaatnya.
            Berkenaan dengan ini, D. Sirojuddin memberikan perbandingan antara Al-Qur`an Berwajah Puisi dan al-Qur`an standar Indonesia serta terbitan lembaga Raja Fadh yang diberikan kepada warga Indonesia. Yaitu:
1.      Al-Qur`an Berwajah Puisi
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ
وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8)
يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا
وَمَا يَخْدَعُونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9)
2.      Al-Qur`an Mushaf Standar Indonesia
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ
بِمُؤْمِنِينَ (8) يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلا 
أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9) فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا
                                                                                               
Pada mushaf terbitan depag, tanpak menuliskan ayat-ayat secara berkesinambungan, memenuhi kepadatan bidang dan ruang kertas yang disediakan. Karena itu, pada baris ketiga, tersisa separuh ayat yang belum tuntas.
            Maka, jika dibandingkan artinya sesuai peletakan ayatnya adalah:
1.      /Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,”/ padahal mereka tiada beriman (8)/ Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman/, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar (9)//
2.      /Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal mereka tiada/ beriman (8), Mereka hanya menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri/ sedang mereka tidak sadar (9). Di hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya //
Dari kedua susunan di atas, D. Sirojuddin mengatakan bahwa Al-Qur`an berwajah puisi mempunyai keunggulan ganda: enak dibaca, mudah dihafal, dan tidak susah.
      Berkenaan dengan tuduhan tidak mengikuti mushaf utsmani, D. Sirojuddin mengatakan bahwa tak satupun mushaf yang terdapat di Indonesia sama persis dengan mushaf Utsmani. Sebab mushaf utsmani sendiri tidak melingkupi tata lay-out nya. Pemikiran tentang lay-out dengan segala tanda yang sempurna seperti kita lihat sekarang, gagasannya justru lahir pada periode Abbasiyah yang dipelopori oleh Abu Hasan Ali Ibnu Hilal atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Bauwab (w 413H/1022 M). Selanjutnya karya-karya masterpiece nya muncul di masa kekuasaan Turki Utsmani dan kerajaan Persia. Dengan demikian, pengaturan halaman umumnya mushaf sekarang mengacu ke periode Baghdad, bukan lagi kepada Utsman.





           
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar