(Sebelumnya Maaf ayat-ayatnya ga kebaca :))
BAB I
PENDAHALUAN
A. Latar belakang
Al-Qur’an itu salihun
li kulli zaman wa makan, hal ini menunjukkan bahwa al-Qur’an selalu cocok
untuk setiap waktu dan tempat. Hal ini lantas mengharuskan manusia
untuk selalu mendialogkan teks (nash) al-Qur’an perkembangan
problem kehidupan manusia nsebagai realita yang dikoneksikan dengan ayat
al-Qur’an.
Singkatnya, umat Islam dituntut
untuk selalu menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan konteks sosio-historis yang
dihadapinya dan selalu berubah seiring berkembangnya zaman. Oleh sebab itu,
kegiatan penafsiran terhadap al-Qur’an tidak akan pernah berhenti sampai kapan
pun.sehingga muncullah beragam karya tafsir yang sarat dengan ragam metode dan
pendekatan serta corak dan warna yang berbeda-beda.
Dalam makalah ini, penulis akan
memaparkan sebuah karya penafsiran al-Qur’an yang dikarang oleh Ibnu ‘Arabi.
Beliau mengarang kitab tafsir Ahkamul Qur’an. Untuk lebih lengkapnya akan
dipaparkan pada pembahasan selanjutnya.
B. Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah dari penjelasan di atas adalah :
1.
Bagaimana biografi tokoh?
2.
Apa itu Tafsir Ahkamul
Qur’an?
3.
Bagaimana metodologi
penulisan kitab tafsir Ahkamul Qur’an?
4.
Bagaimana komentar para
ulama tentang kitab tafsir Ahkamul Qur’an?
C. Tujuan penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.
Mengetahui tentang
biografi tokoh yang mengarang kitab
Ahkamul Qur’an
2.
Menengetahui
lebih dalam mengenai kitab Ahkamul Qur’an
3.
Mengetahui metodologi
penulisan kitab Ahkamul Qur’an
4.
Mengetahui
komentar para ulama tentang kitab tafsir Ahkamul Qur’an
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Biografi Tokoh
a. Latar Belakang Kehidupan
Penulis tafsir
ini adalah Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad
al-Ma’afiri al-Andalusi al-Isybili[1] atau yang populer dengan panggilan Ibn al-‘Arabi. Beliau dilahirkan malam
Kamis tanggal 22 Syawal 468 H bertepatan dengan 31 Maret 1076 M di Desa Isybiliyah, Spanyol. Beliau lahir dari keluarga yang bisa dibilang
sukses dalam dunia intelektual.
Ayahnya adalah seorang ulama besar spesialis hukum fikih di Isybiliyah dan
murid terkemuka dari Abu Muhammad bin Hazm. Ayah Ibn al-Arabi meninggal di
Mesir tahun 493 H.[2]
Beliau memulai pendidikannya dengan belajar ilmu adab dan ilmu qira’at di negrinya. Kemudian beliau mengembara pada umur 35 tahun untuk mencari ilmu ke berbagai negri seperti Mesir,
Syam, Baghdad, dan Makkah[3]. Pada umur itu
juga beliau memulai belajar fikih, ushul, hadis. Beliaupun juga meriwayatkan hadis. Selain itu beliau juga mendalami ilmu kalam dan sangat ahli dalam bidang tafsir. Beliau
juga ahli dalam kesyi’iran. Kemudian beliau pulang ke negrinya Isybili dengan
membawa bekal ilmu yang banyak. Secara global beliau adalah seseorang yang
sangat ahli dalam segala bidang fan keilmuan.[4]
b. Karya-karya
Untuk bidang al-Qur’an dan ulum al-Qur’an, beliau menulis kitab Ahkam al-Qur’an,
Anwar al-Fajr fi Tafsir al-Qur’an,dan Qanun al Ta’wil (ditulis pada tahun 533
H), al-Nasikh wa al-Mansukh, dan al-Muqtabas fi al-Qira’at. Sedangkan
untuk bidang hadis, beliau menulis kitab Aridat al-Ahwazi fi Syarh
al-Tirmizi (terdiri dari tiga belas jilid), Syarh al-Hadis, al-Nirin fi
al-Sahihain, Mukhtaar al-Nirin, al-Ahadis al-Musalsalat, al-Ahadis
al-Siba’iyat, Syarh Hadis Ummi Zar’, Syarh Hadis al-Ifk, Syarh Hadis Jabir fi
al-Syafa’ah, Kitab Musafahat al-Bukhari wa al-Muslim.
Dalam urusan teologi, beliau menulis al-‘Awasim min al-Qawasim (terdiri
dari dua juz), al-Dawahi wa al-Nawahi, Risalah al-Gurrah (kitab ini
ditulis untuk merespon pemikiran Ibnu Hazm dalam kitabnya (Risalah al-Durrah
fi al-I’tiqad), al-‘Amd al-Aqsa bi Asma’ Allah al-Husna Wa sifatihi
al-‘Ulya, Kitab al-Muqsit fi Syarh al-Mutawassit, Nuzhat al-Manazir wa Tuhfat
al-Khawatir, dan lain-lain. Bidang usul fikih ada kitab al-Mahsul fi Usul
al-Fiqh, Kitab al-Tamhis.
Dalam bidang fikih, al-Masalik ‘ala Muwatta’ Malik (berisi
hadis-hadis yang sarat dengan fenomena-fenomena hukum Islam serta kritiknya
terhadap mazhab Zahiriyyah sesuai mazhab yang dianutnya), Syarh Garib
al-Risalah, Tabyin al-Sahih fi Ta’yin al-Dabih, Kitab Satr al-‘Aurat, al-Qabs
fi Syarh Muwatta Ibn Anas, Takhlis al-Talkhis (mengupas cara-cara meng-qashar
shalat dan niatnya pada saat takbirat al-ihram), Takhlis Tariqatain
(berisi problem-problem fikih seputar tata cara membaca basmalah waktu
menyembelih).
Sedangkan dalam bidang nahwu dan sejarah, Ibn
al-Arabi menulis kitab Mulji’ah al-Mutafaqqihin ila Ma’rifat Gawamid
al-Nahwiyyin wa al-Lugawiyyin, A’yan al-A’yan, Tartib al-Rihlah li al-Targib fi
al-Millah, Fahrasat Syuyukhihi (berisi empat puluh satu biografi guru Ibn
al-‘Arabi).[5]
c. Guru dan Murid
Selain berguru kepada imam Gazali, Abu Bakar al-Syasyi, dan Abi Zakariya
al-Tibrizi, ulama-ulama yang pernah ditimba ilmunya oleh Ibn al-Arabi antara
lain:
a.
Di Spanyol : Abdullah bin Muhammad
(ayahnya sendiri), al-Hasan bin
Umar
al-Hauzani (pamannya), Abu Abdillah bin Manzur dan Abu Muhammad bin Khazraj.
b.
Di Bagdad : Tirad bin Muhammad al-Zaini,
Abi Abdillah al-Na’ali, Abi al
-Khattab ibn al-Batar, Ja’far al-Siraj, Ibn Tuyyur.
c. Di Damaskus :
Nasr bin Ibrahim al-Maqdisi, Abi al-Fadl bin Furat, Abi al -Barakat Ibn Tawus.
d.
Di Bait al
Maqdis : Makki bin Abd al-Salam
al-Rumaili.
e.
Di Mekkah : Husain bin Ali al-Tabari.
f.
Di Mesir : Qadi Abi al-Hasan
al-Khila’i, Muhammad bin Abdullah bin Dawud al-Farisi.
g.
Di Cordova : Abi Abdillah
Muhammad bin ‘Itab, Abi Marwan bin Siraj.
Keberhasilan
Ibn al-Arabi secara akademik telah melahirkan beberapa tokoh terkemuka. Di
antaranya adalah Abd al-Khalik bin Ahmad al-Yusafi, Ahmad bin Khalf al-Isybili,
Hasan bin Ali al-Qurtubi, Abu Bakar Muhammad bin Abdullah al-Fihri, Abu al-Qasim
Abd al-Rahman al-Suhaili, Muhammad bin Ibrahim bin al-Fakhar, Muhammad bin
Yusuf bin Sa’adah, Abu Abdillah Muhammad bin Ali al-Kuttami, Muhammad bin Jabir
al-Sa’labi, Najabah bin Yahya al-Ru’ani, Abd al-Mun’im bin Yahya bin al-Khaluf,
Ali bin Ahmad bin Labal, Abu al-Hasan Ali bin Ahmad al-Syaquri, dan Ahmad bin
Umar al-Khajraji. Di antara murid-murid Ibn al-Arabi yang paling popular adalah
Qadi ‘Iyad penulis kitab al-Syifa’ dan Ibn Rusyd, seorang filosof Islam.[6]
2.
Karakteristik
Penafsiran
Sesuai dengan
namanya Ahkam al-Qur’an, tafsir ini memusatkan perhatiannya kepada
ayat-ayat yang mengandung muatan hukum-hukum Islam. Hanya saja tidak semua ayat
beliau munculkan. Artinya, Ibn al-Arabi hanya memunculkan ayat-ayat tertentu
yang mendiskusikan persoalan-persoalan hukum saja.[7]
Misalnya untuk surat al-Baqarah, beliau hanya memunculkan dan menafsirkan ayat
3, 8, 22, 25, 27, 29 dan seterusnya.[8]
Adapun ciri yang menonjol dari
tafsir ini adalah menyebutkan surat, kemudian
menjelaskan jumlah ayat yang bermuatan hukum dan diakhiri dengan
penafsiran ayat per ayat. Biasanya Ibn al-Arabi selalu mengatakan ayat pertama
ada lima permasalahan (al-ayat al-ula: fīha khamsu masaila), ayat
kedua ada tujuh masalah (al-ayat al-tsaniyah: fiha sab’u masaila) dan
seterunya sampai tidak ditemukan lagi ayat-ayat hukum dalam surat yang beliau
tafsirkan. Dalam penafsirannya, beliau sering menggunakan ungkapan, “Ulama kita
mengatakan” (Qala ‘Ulamauna…”).[9]
Ciri-ciri lain[10]
tafsir Ibn al-‘Arabi dapat dijelaskan dengan perincian sebagai berikut:
Pertama, adanya fanatisme
mazhab yang berlebihan. Dalam hal ini adalah mazhab Māliki. Contoh
ketika menafsirkan penggalan ayat 3 surat al-Nisā’ yang berbunyi:
÷bÎ)ur ÷LäêøÿÅz wr& (#qäÜÅ¡ø)è? Îû 4uK»tGuø9$# (#qßsÅ3R$$sù $tB z>$sÛ Nä3s9 z`ÏiB Ïä!$|¡ÏiY9$# 4Óo_÷WtB y]»n=èOur yì»t/âur (
÷bÎ*sù óOçFøÿÅz wr& (#qä9Ï÷ès? ¸oyÏnºuqsù ÷rr& $tB ôMs3n=tB öNä3ãY»yJ÷r& 4
y7Ï9ºs #oT÷r& wr& (#qä9qãès? ÇÌÈ
Dan jika kamu
takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim
(bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu
senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat
berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki.
yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
Dalam menjelaskan ayat ini, Ibn
al-‘Arabi mengemukakan tiga pendapat di antaranya dari imam Syāfi’i. Di akhir
kutipannya beliau mengatakan, “Semua gagasan Imam Syāfi’i dan sifat-sifat yang
dianugerahkan kepadanya tak lain adalah sebagian dari intelektualitas dan
lautan keilmuan yang dimiliki oleh imam Mālik. Imam Mālik adalah orang yang
tajam pendengaran dan pengetahuannya…”[11]
Kedua, menyerang
mazhab lain yang tidak sepaham. Contoh penafsiran beliau tentang surat
al-Nisā’ ayat 25 yang bunyinya:
`tBur öN©9 ôìÏÜtGó¡o öNä3ZÏB »wöqsÛ br& yxÅ6Zt ÏM»oY|ÁósßJø9$# ÏM»oYÏB÷sßJø9$# `ÏJsù $¨B ôMs3n=tB Nä3ãZ»yJ÷r& `ÏiB ãNä3ÏG»utGsù ÏM»oYÏB÷sßJø9$# 4 ª!$#ur ãNn=ôãr& Nä3ÏZ»yJÎ*Î/ 4
Dan
barangsiapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya
untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang
beriman, dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu.
Di dalam
masalah yang kelima, beliau mengutip pendapat Abu Bakar al-Rāzi dari kitabnya Ahkam
al-Qur’an bahwa menikahi budak perempuan tidak termasuk darurat. Karena
yang namanya darurat itu melakukan hal yang bisa membahayakan nyawa atau
anggota badan. Di dalam mazhab kami tidak ada pembahasan seperti itu, kata Ibn
al-‘Arabi. Selanjutnya beliau berkomentar, “Pendapat semacam itu adalah
perkataan orang bodoh yang tidak tahu tentang hukum…”.[12]
Ketiga, perhatiannya
terhadap kebahasaan untuk menjelaskan makna suatu ayat. Misalnya untuk
menjelaskan kata ‘aul dalam surat al-Nisa’ ayat 3, beliau mengemukakan
tujuh pendapat. Di antaranya menurut Ya’qub ‘aul artinya cenderung (mail).
Ada juga yang mengatakan artinya tambahan atau menambah.[13]
Keempat,
meminimalisir kisah-kisah israiliyyat. Hal ini bukan berarti Ibn
al-‘Arabi tidak sama sekali mengutip kisah-kisah israiliyyat,
namun di akhir kutipannya beliau selalu melakukan kritik terhadap
riwayat-riwayat tersebut. Misalnya setelah mengutip kisah tentang Harut dan
Marut dalam surat al-Baqarah ayat 102, beliau mengkritiknya dengan mengatakan,
“Yang benar, riwayat-riwayat semacam itu sanadnya tidak sahih. Namun secara
nalar boleh dinukil selagi masih sejalan dengan dalil naqli”.[14]
Kelima, menghindari
hadis-hadis yang kualitasnya lemah. Hal itu terlihat dari sikap beliau yang
dalam suatu kesempatan memberikan nasehat kepada murid-muridnya setelah
menjelaskan kedha’ifan hadis yang menyatakan bahwa Nabi bersuci satu
kali satu kali dengan sabdanya, “Allah tidak akan menerima shalat kecuali
dengan wudu seperti ini.” Kemudian wudhu Nabi dua kali dua kali dengan
sabdanya, “Barang siapa yang bersuci dua kali dua kali, maka Allah akan
memberinya pahala dua kali”. Dan terakhir mengenai tata cara Nabi bersuci
tiga kali tiga kali dengan sabdanya, “Inilah caraku, nabi-nabi sebelumku,
dan Ibrahim bersuci.”
Setelah menjelaskan kedha’ifannya,
beliau mengatakan kepada murid-muridnya, “Saya berwasiat kepada kalian semua
baik dalam bentuk tulisan atau dalam bentuk majlis untuk menghindari
hadis-hadis yang sanadnya tidak sahih.”
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1)
Penulis tafsir
ini adalah Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad
al-Ma’afiri al-Andalusi al-Isybili[15] atau yang populer dengan panggilan Ibn al-‘Arabi. Beliau dilahirkan malam
Kamis tanggal 22 Syawal 468 H bertepatan dengan 31 Maret 1076 M di Desa Isybiliyah, Spanyol.
2)
Beliau merupaka orang yang mempunyai
intelektualitas yang sangat luas dalam berbagai bidang. Seperti: ulumul qur’an, teologi, sejarah, fiqih, dan
nahwu.
3)
Sesuai dengan
namanya Ahkam al-Qur’an, tafsir ini memusatkan perhatiannya kepada
ayat-ayat yang mengandung muatan hukum-hukum Islam.
4)
Adapun ciri
yang menonjol dari tafsir ini adalah menyebutkan surat, kemudian menjelaskan jumlah ayat yang bermuatan hukum
dan diakhiri dengan penafsiran ayat per ayat.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul, Mani’
Halim Mahmud. Metodologi Tafsir: Kajian Komprehensif Metode Para Ahli
Tafsir, Jakarta: Rajawali Pers 2006.
Abdullah ,Abi Muhammad Ibn Idris al Shafi'iy. Ahkam Al Qur'an. Beirut: Dar al Kutub al 'Ilmiyyah. 1991.
Samsyuddin, Imam. Siyar A’lam an-Nubala. Beirut : Muassasah ar-Risalah.1990
Ad-dhahaby, Husayn. At-Tafsir wal Mufassirun. Kairo : sn. 1976
Goldziher, Ignaz. Madzhab Tafsir dari Klasik Hingga Modern. Yogyakarta : el-SAQ. 2006
[1] Mani’ Abd Halim Mahmud, metodologi tafsir, hlm. 243.
[2] Ibn al-‘Arabi, Ahkam al-Qur’an (Beirut : Daar al-kutub,
2008),
pentahqiq Muhammad Abdul khaliq Abdul
qadir atho.
[3] Ignaz goldzier, madzhab
tafsir “ dari klasik hingga modern” ( beirut : dar- iqra’, 2010) hal 260.
[4] Ibn
al-‘Arabi, Ahkam al-Qur’an (Beirut : Daar al-kutub, 2008), pentahqiq Muhammad Abdul
khaliq Abdul qadir atho.
[5] Ibn al-‘Arabi, Ahkam al-Qur’an (Beirut : Daar al-kutub, 2008), pentahqiq Muhammad Abdul
khaliq Abdul qadir atho.
[8] Lihat selengkapnya dalam Ibn al-‘Arabi, Ahkam al-Qur’an (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah,
1996), juz I, hlm. 15 sampai seterusnya.
[10] Ibid., hlm. 396-400.
[11] Ibn al-‘Arabi, Ahkam al-Qur’an,
Juz I, hlm. 410-411.
[12] Ibid., Juz I, hlm. 504.
[13] Ibid., Juz I, hlm. 411.
[14] Ibid., Juz I, hlm. 46.
[15] Mani’ Abd Halim Mahmud, metodologi tafsir, hlm. 243.
mohon tinjau ulang keabsahan tulisan anda, terutama mengenai karya Ibn Arabi. Cukup banyak penyimpangan data yang saya peroleh dari tulisan anda, misal Qanun al-Ta'wil yang seharusnya karangan Ghazali dan Anwar al-Fajr karangan Mahyaa al-Arabi. Terima kasih
BalasHapusMaaf mas Hadi.
HapusCoba diteliti lagi, terutama kitab Qanun al-Ta'wil. Memang ada tulisan Al-Ghazali, namun ibn al-'Arabi juga menulis kitab yg berjudul Qanun al-Ta'wil. Begitupun dengan Anwar al-Fajr
Kok makalah nya kurg lengkp yaa
BalasHapus