Senin, 27 April 2015

Ahkam al-Qur'an Karya Ibn al-'Arabi



(Sebelumnya Maaf ayat-ayatnya ga kebaca :))
BAB I
PENDAHALUAN
A.     Latar belakang
Al-Qur’an itu salihun li kulli zaman wa makan, hal ini menunjukkan bahwa al-Qur’an selalu cocok untuk setiap waktu dan tempat. Hal ini lantas mengharuskan manusia untuk selalu mendialogkan teks (nash) al-Qur’an perkembangan problem kehidupan manusia nsebagai realita yang dikoneksikan dengan ayat al-Qur’an.
Singkatnya, umat Islam dituntut untuk selalu menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan konteks sosio-historis yang dihadapinya dan selalu berubah seiring berkembangnya zaman. Oleh sebab itu, kegiatan penafsiran terhadap al-Qur’an tidak akan pernah berhenti sampai kapan pun.sehingga muncullah beragam karya tafsir yang sarat dengan ragam metode dan pendekatan serta corak dan warna yang berbeda-beda.
Dalam makalah ini, penulis akan memaparkan sebuah karya penafsiran al-Qur’an yang dikarang oleh Ibnu ‘Arabi. Beliau mengarang kitab tafsir Ahkamul Qur’an. Untuk lebih lengkapnya akan dipaparkan pada pembahasan selanjutnya.

B.     Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah dari penjelasan di atas adalah :
1.      Bagaimana biografi tokoh?
2.      Apa itu Tafsir Ahkamul Qur’an?
3.      Bagaimana metodologi penulisan kitab tafsir Ahkamul Qur’an?
4.      Bagaimana komentar para ulama tentang kitab tafsir Ahkamul Qur’an?
C.     Tujuan penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.      Mengetahui tentang biografi tokoh yang mengarang  kitab Ahkamul Qur’an
2.      Menengetahui lebih dalam mengenai kitab Ahkamul Qur’an
3.      Mengetahui metodologi penulisan kitab Ahkamul Qur’an
4.      Mengetahui komentar para ulama tentang kitab tafsir Ahkamul Qur’an






















BAB II
PEMBAHASAN
1.        Biografi Tokoh
a.       Latar Belakang Kehidupan
Penulis tafsir ini adalah Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad al-Ma’afiri al-Andalusi al-Isybili[1] atau yang populer dengan panggilan Ibn al-‘Arabi. Beliau dilahirkan malam Kamis tanggal 22 Syawal 468 H bertepatan dengan 31 Maret 1076 M di Desa Isybiliyah, Spanyol. Beliau lahir dari keluarga yang bisa dibilang sukses dalam dunia intelektual. Ayahnya adalah seorang ulama besar spesialis hukum fikih di Isybiliyah dan murid terkemuka dari Abu Muhammad bin Hazm. Ayah Ibn al-Arabi meninggal di Mesir tahun 493 H.[2] Beliau memulai pendidikannya dengan belajar ilmu adab dan ilmu qiraat di negrinya. Kemudian beliau mengembara pada umur 35 tahun untuk mencari ilmu ke berbagai negri seperti Mesir, Syam, Baghdad, dan Makkah[3]. Pada umur itu juga beliau memulai belajar fikih, ushul, hadis.  Beliaupun juga meriwayatkan hadis. Selain itu beliau juga mendalami ilmu kalam dan sangat ahli dalam bidang tafsir. Beliau juga ahli dalam kesyi’iran. Kemudian beliau pulang ke negrinya Isybili dengan membawa bekal ilmu yang banyak. Secara global beliau adalah seseorang yang sangat ahli dalam segala bidang fan keilmuan.[4]
b.      Karya-karya
Untuk bidang al-Qur’an dan ulum al-Qur’an, beliau menulis kitab Ahkam al-Qur’an, Anwar al-Fajr fi Tafsir al-Qur’an,dan  Qanun al Ta’wil (ditulis pada tahun 533 H), al-Nasikh wa al-Mansukh, dan al-Muqtabas fi al-Qira’at. Sedangkan untuk bidang hadis, beliau menulis kitab Aridat al-Ahwazi fi Syarh al-Tirmizi (terdiri dari tiga belas jilid), Syarh al-Hadis, al-Nirin fi al-Sahihain, Mukhtaar al-Nirin, al-Ahadis al-Musalsalat, al-Ahadis al-Siba’iyat, Syarh Hadis Ummi Zar’, Syarh Hadis al-Ifk, Syarh Hadis Jabir fi al-Syafa’ah, Kitab Musafahat al-Bukhari wa al-Muslim.
Dalam urusan teologi, beliau menulis al-‘Awasim min al-Qawasim (terdiri dari dua juz), al-Dawahi wa al-Nawahi, Risalah al-Gurrah (kitab ini ditulis untuk merespon pemikiran Ibnu Hazm dalam kitabnya (Risalah al-Durrah fi al-I’tiqad), al-‘Amd al-Aqsa bi Asma’ Allah al-Husna Wa sifatihi al-‘Ulya, Kitab al-Muqsit fi Syarh al-Mutawassit, Nuzhat al-Manazir wa Tuhfat al-Khawatir, dan lain-lain. Bidang usul fikih ada kitab al-Mahsul fi Usul al-Fiqh, Kitab al-Tamhis.
Dalam bidang fikih, al-Masalik ‘ala Muwatta’ Malik (berisi hadis-hadis yang sarat dengan fenomena-fenomena hukum Islam serta kritiknya terhadap mazhab Zahiriyyah sesuai mazhab yang dianutnya), Syarh Garib al-Risalah, Tabyin al-Sahih fi Ta’yin al-Dabih, Kitab Satr al-‘Aurat, al-Qabs fi Syarh Muwatta Ibn Anas, Takhlis al-Talkhis (mengupas cara-cara meng-qashar shalat dan niatnya pada saat takbirat al-ihram), Takhlis Tariqatain (berisi problem-problem fikih seputar tata cara membaca basmalah waktu menyembelih).
Sedangkan dalam bidang nahwu dan sejarah, Ibn al-Arabi menulis kitab Mulji’ah al-Mutafaqqihin ila Ma’rifat Gawamid al-Nahwiyyin wa al-Lugawiyyin, A’yan al-A’yan, Tartib al-Rihlah li al-Targib fi al-Millah, Fahrasat Syuyukhihi (berisi empat puluh satu biografi guru Ibn al-‘Arabi).[5]
c.    Guru dan Murid
Selain berguru kepada imam Gazali, Abu Bakar al-Syasyi, dan Abi Zakariya al-Tibrizi, ulama-ulama yang pernah ditimba ilmunya oleh Ibn al-Arabi antara lain:
a.       Di Spanyol                  : Abdullah bin Muhammad (ayahnya sendiri), al-Hasan bin
Umar al-Hauzani (pamannya), Abu Abdillah bin Manzur dan Abu Muhammad bin Khazraj.
b.      Di Bagdad                  : Tirad bin Muhammad al-Zaini, Abi Abdillah al-Na’ali, Abi al 
-Khattab ibn al-Batar, Ja’far al-Siraj, Ibn Tuyyur.                  
c.       Di Damaskus                        : Nasr bin Ibrahim al-Maqdisi, Abi al-Fadl bin Furat, Abi al                                                -Barakat Ibn Tawus.
d.      Di Bait al Maqdis        : Makki bin Abd al-Salam al-Rumaili.
e.       Di Mekkah                  : Husain bin Ali al-Tabari.
f.       Di Mesir                      : Qadi Abi al-Hasan al-Khila’i, Muhammad bin Abdullah bin                                   Dawud al-Farisi.
g.      Di Cordova                 : Abi Abdillah Muhammad bin ‘Itab, Abi Marwan bin Siraj.
Keberhasilan Ibn al-Arabi secara akademik telah melahirkan beberapa tokoh terkemuka. Di antaranya adalah Abd al-Khalik bin Ahmad al-Yusafi, Ahmad bin Khalf al-Isybili, Hasan bin Ali al-Qurtubi, Abu Bakar Muhammad bin Abdullah al-Fihri, Abu al-Qasim Abd al-Rahman al-Suhaili, Muhammad bin Ibrahim bin al-Fakhar, Muhammad bin Yusuf bin Sa’adah, Abu Abdillah Muhammad bin Ali al-Kuttami, Muhammad bin Jabir al-Sa’labi, Najabah bin Yahya al-Ru’ani, Abd al-Mun’im bin Yahya bin al-Khaluf, Ali bin Ahmad bin Labal, Abu al-Hasan Ali bin Ahmad al-Syaquri, dan Ahmad bin Umar al-Khajraji. Di antara murid-murid Ibn al-Arabi yang paling popular adalah Qadi ‘Iyad penulis kitab al-Syifa’ dan Ibn Rusyd, seorang filosof Islam.[6]
2.      Karakteristik Penafsiran
            Sesuai dengan namanya Ahkam al-Qur’an, tafsir ini memusatkan perhatiannya kepada ayat-ayat yang mengandung muatan hukum-hukum Islam. Hanya saja tidak semua ayat beliau munculkan. Artinya, Ibn al-Arabi hanya memunculkan ayat-ayat tertentu yang mendiskusikan persoalan-persoalan hukum saja.[7] Misalnya untuk surat al-Baqarah, beliau hanya memunculkan dan menafsirkan ayat 3, 8, 22, 25, 27, 29 dan seterusnya.[8]
            Adapun ciri yang menonjol dari tafsir ini adalah menyebutkan surat, kemudian  menjelaskan jumlah ayat yang bermuatan hukum dan diakhiri dengan penafsiran ayat per ayat. Biasanya Ibn al-Arabi selalu mengatakan ayat pertama ada lima permasalahan (al-ayat al-ula: fīha khamsu masaila), ayat kedua ada tujuh masalah (al-ayat al-tsaniyah: fiha sab’u masaila) dan seterunya sampai tidak ditemukan lagi ayat-ayat hukum dalam surat yang beliau tafsirkan. Dalam penafsirannya, beliau sering menggunakan ungkapan, “Ulama kita mengatakan” (Qala ‘Ulamauna…”).[9]    
            Ciri-ciri lain[10] tafsir Ibn al-‘Arabi dapat dijelaskan dengan perincian sebagai berikut:
Pertama, adanya fanatisme mazhab yang berlebihan. Dalam hal ini adalah mazhab Māliki. Contoh ketika menafsirkan penggalan ayat 3 surat al-Nisā’ yang berbunyi:
÷bÎ)ur ÷LäêøÿÅz žwr& (#qäÜÅ¡ø)è? Îû 4uK»tGuø9$# (#qßsÅ3R$$sù $tB z>$sÛ Nä3s9 z`ÏiB Ïä!$|¡ÏiY9$# 4Óo_÷WtB y]»n=èOur yì»t/âur ( ÷bÎ*sù óOçFøÿÅz žwr& (#qä9Ï÷ès? ¸oyÏnºuqsù ÷rr& $tB ôMs3n=tB öNä3ãY»yJ÷ƒr& 4 y7Ï9ºsŒ #oT÷Šr& žwr& (#qä9qãès? ÇÌÈ
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
            Dalam menjelaskan ayat ini, Ibn al-‘Arabi mengemukakan tiga pendapat di antaranya dari imam Syāfi’i. Di akhir kutipannya beliau mengatakan, “Semua gagasan Imam Syāfi’i dan sifat-sifat yang dianugerahkan kepadanya tak lain adalah sebagian dari intelektualitas dan lautan keilmuan yang dimiliki oleh imam Mālik. Imam Mālik adalah orang yang tajam pendengaran dan pengetahuannya…”[11]
Kedua, menyerang mazhab lain yang tidak sepaham. Contoh penafsiran beliau tentang surat al-Nisā’ ayat 25 yang bunyinya:
`tBur öN©9 ôìÏÜtGó¡o öNä3ZÏB »wöqsÛ br& yxÅ6Ztƒ ÏM»oY|ÁósßJø9$# ÏM»oYÏB÷sßJø9$# `ÏJsù $¨B ôMs3n=tB Nä3ãZ»yJ÷ƒr& `ÏiB ãNä3ÏG»uŠtGsù ÏM»oYÏB÷sßJø9$# 4 ª!$#ur ãNn=ôãr& Nä3ÏZ»yJƒÎ*Î/ 4
Dan barangsiapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu.
Di dalam masalah yang kelima, beliau mengutip pendapat Abu Bakar al-Rāzi dari kitabnya Ahkam al-Qur’an bahwa menikahi budak perempuan tidak termasuk darurat. Karena yang namanya darurat itu melakukan hal yang bisa membahayakan nyawa atau anggota badan. Di dalam mazhab kami tidak ada pembahasan seperti itu, kata Ibn al-‘Arabi. Selanjutnya beliau berkomentar, “Pendapat semacam itu adalah perkataan orang bodoh yang tidak tahu tentang hukum…”.[12]
Ketiga, perhatiannya terhadap kebahasaan untuk menjelaskan makna suatu ayat. Misalnya untuk menjelaskan kata ‘aul dalam surat al-Nisa’ ayat 3, beliau mengemukakan tujuh pendapat. Di antaranya menurut Ya’qub ‘aul artinya cenderung (mail). Ada juga yang mengatakan artinya tambahan atau menambah.[13] 
Keempat, meminimalisir kisah-kisah israiliyyat. Hal ini bukan berarti Ibn al-‘Arabi tidak sama sekali mengutip kisah-kisah israiliyyat, namun di akhir kutipannya beliau selalu melakukan kritik terhadap riwayat-riwayat tersebut. Misalnya setelah mengutip kisah tentang Harut dan Marut dalam surat al-Baqarah ayat 102, beliau mengkritiknya dengan mengatakan, “Yang benar, riwayat-riwayat semacam itu sanadnya tidak sahih. Namun secara nalar boleh dinukil selagi masih sejalan dengan dalil naqli”.[14] 
Kelima, menghindari hadis-hadis yang kualitasnya lemah. Hal itu terlihat dari sikap beliau yang dalam suatu kesempatan memberikan nasehat kepada murid-muridnya setelah menjelaskan kedha’ifan hadis yang menyatakan bahwa Nabi bersuci satu kali satu kali dengan sabdanya, “Allah tidak akan menerima shalat kecuali dengan wudu seperti ini.” Kemudian wudhu Nabi dua kali dua kali dengan sabdanya, “Barang siapa yang bersuci dua kali dua kali, maka Allah akan memberinya pahala dua kali”. Dan terakhir mengenai tata cara Nabi bersuci tiga kali tiga kali dengan sabdanya, “Inilah caraku, nabi-nabi sebelumku, dan Ibrahim bersuci.”
Setelah menjelaskan kedha’ifannya, beliau mengatakan kepada murid-muridnya, “Saya berwasiat kepada kalian semua baik dalam bentuk tulisan atau dalam bentuk majlis untuk menghindari hadis-hadis yang sanadnya tidak sahih.”


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1)      Penulis tafsir ini adalah Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad al-Ma’afiri al-Andalusi al-Isybili[15] atau yang populer dengan panggilan Ibn al-‘Arabi. Beliau dilahirkan malam Kamis tanggal 22 Syawal 468 H bertepatan dengan 31 Maret 1076 M di Desa Isybiliyah, Spanyol.
2)      Beliau merupaka orang yang mempunyai intelektualitas yang sangat luas dalam berbagai bidang. Seperti:  ulumul qur’an, teologi, sejarah, fiqih, dan nahwu.
3)      Sesuai dengan namanya Ahkam al-Qur’an, tafsir ini memusatkan perhatiannya kepada ayat-ayat yang mengandung muatan hukum-hukum Islam.
4)      Adapun ciri yang menonjol dari tafsir ini adalah menyebutkan surat, kemudian  menjelaskan jumlah ayat yang bermuatan hukum dan diakhiri dengan penafsiran ayat per ayat.



DAFTAR PUSTAKA
Abdul, Mani’ Halim Mahmud. Metodologi Tafsir: Kajian Komprehensif Metode Para Ahli Tafsir, Jakarta: Rajawali Pers 2006.

Abdullah ,Abi Muhammad Ibn Idris al Shafi'iy. Ahkam Al Qur'an. Beirut: Dar al Kutub al 'Ilmiyyah. 1991.

Samsyuddin, Imam. Siyar  A’lam an-Nubala. Beirut : Muassasah ar-Risalah.1990

Ad-dhahaby, Husayn. At-Tafsir wal Mufassirun. Kairo : sn. 1976

Goldziher, Ignaz. Madzhab Tafsir dari Klasik Hingga Modern. Yogyakarta : el-SAQ. 2006

 




[1] Mani’ Abd Halim Mahmud, metodologi tafsir, hlm. 243.
[2] Ibn al-‘Arabi,  Ahkam al-Qur’an (Beirut : Daar al-kutub, 2008), pentahqiq Muhammad Abdul khaliq Abdul qadir atho.
[3] Ignaz goldzier, madzhab tafsir “ dari klasik hingga modern” ( beirut : dar- iqra’, 2010) hal 260.
[4] Ibn al-‘Arabi,  Ahkam al-Qur’an (Beirut : Daar al-kutub, 2008), pentahqiq Muhammad Abdul khaliq Abdul qadir atho.
[5] Ibn al-‘Arabi,  Ahkam al-Qur’an (Beirut : Daar al-kutub, 2008), pentahqiq Muhammad Abdul khaliq Abdul qadir atho.
[6] Lihat Muhammad bin Ahmad al-Zahabi, Siyar A’lam al-Nubala’,  XX, hlm. 198 dan 200.
[7] Al-Zahabi, al-Tafsir wa al-Mufassirun, juz II, hlm. 394.
[8] Lihat selengkapnya dalam Ibn al-‘Arabi, Ahkam al-Qur’an (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1996), juz I, hlm. 15 sampai seterusnya.
[9] Al-Zahabi, al-Tafsīr wa al-Mufassirun, juz II, hlm. 394.
[10] Ibid., hlm. 396-400.
[11] Ibn al-‘Arabi, Ahkam al-Qur’an, Juz I, hlm. 410-411.
[12] Ibid., Juz I,  hlm. 504.
[13] Ibid., Juz I, hlm. 411.
[14] Ibid., Juz I, hlm. 46.
[15] Mani’ Abd Halim Mahmud, metodologi tafsir, hlm. 243.

3 komentar:

  1. mohon tinjau ulang keabsahan tulisan anda, terutama mengenai karya Ibn Arabi. Cukup banyak penyimpangan data yang saya peroleh dari tulisan anda, misal Qanun al-Ta'wil yang seharusnya karangan Ghazali dan Anwar al-Fajr karangan Mahyaa al-Arabi. Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf mas Hadi.
      Coba diteliti lagi, terutama kitab Qanun al-Ta'wil. Memang ada tulisan Al-Ghazali, namun ibn al-'Arabi juga menulis kitab yg berjudul Qanun al-Ta'wil. Begitupun dengan Anwar al-Fajr

      Hapus
  2. Kok makalah nya kurg lengkp yaa

    BalasHapus